Skip to main content

STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF (SPK)



source : https://teachingsexed.files.wordpress.com/2014/01/cartoon-people-groups.gif


A. Konsep Strategi Pembelajaran Kooperatif (SPK)
      Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis-garisbesar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditemukan. Dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi bisa diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru dan anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan. Strategi-strategi belajar mengacu pada perilaku  dan proses-proses berpikir yang digunakan oleh siswa dalam mempengaruhi hal-hal yang dipelajari, termasuk memori dan metakognitif.
       Model Pembelajaran kelompok adalah rangkain kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Ada empat unsur penting dalam SPK, yaitu:
 (1) adanya peserta dalam kelompok;
 (2) adanya aturan kelompok;
 (3) adanya upaya belajar setiap anggota kelompok; dan
 (4) adanya tujuan yang harus dicapai.
      Peserta adalah siswa yang melakukan proses pembelajaran dalam setiap kelompok belajar. Pengelompokkan siswa bisa ditetapkan berdasarkan beberapa pendekatan, diantaranya pengelompokkan yang didasarkan atas latarbelakang kemampuan, pengelompokkan yang didasarkan atas minat dan bakat siswa, pengelompokkan yang didasarkan atas latarbelakang kemampuan, pengelompokkan yang didasarkan atas campuran baik campuran ditinjau dari minat maupun kemampuan. Pendekatan apapun yang digunakan, tujuan pembelajaran haruslah menjadi pertimbangan utama.
        Aturan kelompok adalah segala sesuatu yang menjadi kesepakatan semua pihak yang terlibat, baik siswa sebagai peserta didik, maupun siswa sebagai anggota kelompok.
Upaya belajar adalah aktivitas siswa untuk meningkatkan kemampuann baru, baik berupa dalam aspek pengetahuan, sikap, maupun keterampilan. aktivitas pembelajaran tersebut dilakukan dalam kegiatan kelompok, sehingga antarpeserta dapat saling membelajarkan melalui tukar pikiran, pengalaman, maupun gagasan-gagasan.
      Salah satu strategi dari model pembelajaran kelompok adalah strategi pembelajaran kooperatif ( cooperative learning) (SPK). SPK merupakan strategi pembelajaran kelompok yang akhir-akhir ini menjadi perhatian dan dianjurkan para ahli pendidikan untuk digunakan. Slavin (1995) mengemukakan dua alasan, pertama, beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa penggunaan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar siswa  sekaligus dapat meningkatkan  kemampuan hubungan sosial, menumbuhkan sikap menerima kekurangan diri dan orang lain, serta dapat meningkatkan harga diri. Kedua, pembelajaran kooperatif dapat merealisasikan kebutuhan siswa dalam belajar berpikir, memecahkan masalah, dan mengintegrasikan pengetahuan dengan keterampilan. Pembelajaraan kooperatif merupakan model pembelajaran dengan menggunakan pengelompokkan /tim kecil, yaitu antara empat sampai enam orang yang mempunyai latar belakang kemampuan akademik, jenis kelamin,ras,atau suku yang berbeda (heterogen).
      Model Pembelajaran kelompok adalah rangkain kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Ada empat unsur penting dalam SPK, yaitu:
(1) adanya peserta dalam kelompok; 
(2) adanya aturan kelompok; 
(3) adanya upaya belajar setiap anggota kelompok; dan 
(4) adanya tujuan yang harus dicapai.
     Peserta adalah siswa yang melakukan proses pembelajaran dalam setiap kelompok belajar. Pengelompokkan siswa bisa ditetapkan berdasarkan beberapa pendekatan, diantaranya pengelompokkan yang didasarkan atas latarbelakang kemampuan, pengelompokkan yang didasarkan atas minat dan bakat siswa, pengelompokkan yang didasarkan atas latarbelakang kemampuan, pengelompokkan yang didasarkan atas campuran baik campuran ditinjau dari minat maupun kemampuan. Pendekatan apapun yang digunakan, tujuan pembelajaran haruslah menjadi pertimbangan utama.
       Aturan kelompok adalah segala sesuatu yang menjadi kesepakatan semua pihak yang terlibat, baik siswa sebagai peserta didik, maupun siswa sebagai anggota kelompok.Dasar Penggunaan Kooperatif :
1. Guru menekankan pentingnya usaha kolektif disamping usaha individual dalam belajar
2. jika guru menghendaki seluruh siswa ( bukan hanya siswa yang pintar saja) untuk memperoleh  keberhasilan dalam belajar.
3. jika guru ingin menanamkan, bahwa siswa dapat belajar dari teman lainnya, dan belajar dari bantuan orang lain.
4. jika guru menghendaki untuk mengembangkan kemampuan komunikasi siswa sebagai bagian dari isi kurikulum.
5. jika guru menghendaki meningkatnya motivasi siswa dan menambah tingkat partisipasi mereka.
6. jika guru menghendaki berkembangnya kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dan menemukan berbagai solusi pemecahan.

B. Karakteristik Strategi Pembelajaran
Pembelajaran kooperatif berbeda dengan strategi pembelajaranyang lain. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari proses kerja sama dalam kelompok. Tujuan yang ingin dicapai tidak hanya kemampuan akademik dalam pengertian penguasaan dalam pembelajaran, tetapi juga adanya unsur kerja sama  yang menjadi ciri khasdari pembelajaran kooperatif.
Strategi pembelajaran kooperatif dijelaskan dibawah ini.
1. Pembelajaran secara tim
Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran secara tim. Tim merupakan trmpat untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, tim harus mampu membuat setiap siswa belajar. Semua anggota tim (anhgota kelompok) harus saling membantu untuk mencapai tujuan pembelajaran. Untuk itulah, kriteria keberhasilan pembelajaran ditentukan oleh keberhasilan tim.
Setiap kelompok bersifat heterogen.
2. Didasarkan pada manajemen kooperatif
Sebagaimana pada umumnya, manajemen mempunyai empat fungsi pokok, yaitu fungdi perencanaan, fungsi organisasi, fungsi pelaksanaan, dan fungsi kontrol.
3. Kemauan untuk bekerja sama
Setiap anggota kelompok bukan saja harus diatur tugas dan tanggung jawab masing-masing, akan tetapi juga ditanamkan perlunya saling membantu.
4. Keterampilan bekerja sama
Kemampuan untuk bekerja sama itu kemudian dipraktikkan melalui aktivitas dan kegiatan yang tergambarkan dalam keterampilan bekerja sama. Dengan demikian, siswa perlu didorong untuk mau dan sanggup berinteraksi dan berkomunikasi dengan anggota lain.

C. Prinsip-prinsip Pembelajaran Kooperatif
1. Prinsip ketergantungan Positif (Positive Interdependence)
Dalam pembelajaran kelompok, keberhasilan suatu penyelesaian tugas sangat tergantung kepada usaha yang dilakukan setiap anggota kelompoknya. Oleh sebab itu, perlu disadari oleh setiap anggota kelompok akan ditentukan oleh kinerja masing-masing anggota. Dengan demikian, semua anggota dalam kelompok akan merasa saling ketergantungan.
2. Tanggung Jawab Perseorangan (Individual Accountability)
Prinsip ini merupakan konsekuensi dari prinsip yang pertama. Oleh karena keberhadilan kelompok tergantung pada setiap anggotanya, maka setiap anggota kelompok harus memiliki tanggung jawab sesuai dengan tugasnya.
3. Interaksi Tatap Muka ( Face to Face Promootion Interaction)
Pembelajaran kooperatif memberi ruang dqn kesempatan yang luas kepada setiap anggota untuk bertatap muka saling memberikan informasi dan saling membelajarkan. Interaksi tatap muka akan memberikan pengalaman yang berharga kepada setiap anggota kelompok untuk bekerja sama, menghargai setiap perbedaan, memanfaatkan kelebihan masibg-masing anggota, dan mengisi kekurangan masing-masing.
4. Partisipasi dan Komunikasi ( Participation Communication)
Pembelajaran kooperatif melatih siswa untuk dapat mampu berpartisipasi aktif dan berkomunikasi. Kemampuan ini sangat penting sebagai bekal mereka dalam kehidupan di masyarakat kelak.

D. Langkah - langkah Pembelajaran Kooperatif
1. Penjelasan Materi
Tahap penjelasan diartikan sebagai proses penyampaian pokok-pokok materi pelajaran sebelum siswa belajar dalam kelompok. Tujuan utama dalam tahap ini guru menberikan gambaran umum tentang materi pelajaran yang harus dikuasai yang selanjutnya siswa akan memperdalam materi dalam pembelajaran kelompok (tim). Pada tahap ini, guru dapat menggunakan metode ceramah, curah pendapat, dan tanya jawab, bahkan kalau perlu guru dapat menggunakan demonstrasi. Disamping itu, guru juga dapat menggunakan berbagai media pembelajaran agar proses penyampaian dapat lebih menarik siswa.
2. Belajar dalam kelompok
Setelah guru menjelaskan gambaran umum tentabg pokok - pokok materi pelajaran, selanjutnya siswa diminta untuk belajar pada kelompoknya masing-masing yang telah dibentuk sebelumnyam
3. Penilaian
Penilaian dalam SPK bisa dilakukan dengan tes atau kuis. Tes atau kuis dilakukan baik secara individual maupun secara kelompok.
4. Pengakuan Tim
https://teachingsexed.files.wordpress.com/2014/01/cartoon-people-groups.gif
Pengakuan Tim ( Team Recognition) adalah penetapan tim yang dianggap paling menonjol atau tim paling berprestasi untuk kemudian diberikan penghargaan atau hadiah. Pengakuan dan pemberian pengharhaan tersebut diharapkan dapat memotivasi tim untuk terus berprestasi dan juga membangkitkan motivasi tim lain untuk lebih mampu meningkatkan prestasi mereka.


E. Keunggulan Dan Keterbatasan SPK
source : http://kingpromosi.com/all-tips/wp-content/uploads/2015/10/positive-or-negative.png

  • Keunggulan  SPK
1. Melalui SPK siswa tidak terlalu menggantungkan pada guru, akan tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berpikir sendiri, menemukan informasi dari berbagai sumber, dan belajae dari siswa yang lain.
2. SPK dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain.
3. SPK dapat membantu anak untuk respek pada orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan.
4. SPK dapat membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.
5. SPK merupakan suatu strategi yang cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemampuan sosial termasuk mengembangkan rasa harga diri, hubungan iterpersonal yang positif dengan yang lain, mengembangkan keterampilam me-manage wakt, dan sikap positif terhadap sekolah.
6. Melalu SPK dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri, menerima umpan balik. siswa dapat berpraktik memecahkan masalah tanpa takut membuat kesalahan, karena keputusan yang dibuat adalah tanggung jawab kelompoknya.
7. SPK dapat meningkatkan kemampuan siswa menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstrak menjadi nyata (riil).
8. Interaksi selama kooperatif berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan untuk berpikir. Hal ini berguna untuk proses pendidikan jangka panjang.

  • Keterbatasan SPK
     Disamping keunggulan, SPK juga memiliki kekurangan, diantaranya :
1. Untuk memahami dan mengerti filosofis SPK memang butuh waktu. sangat tidak rasional kalau kita mengharapkan secara otomatis siswa dapat mengerti  dan memahami filsafat cooperative learning,
2. Ciri utama dari SPK adalah bahwa siswa  saling membelajarkan. oleh karena itu, jika tanpa peer teachhing yang efektif, maka dibandingkan pembelajaran langsung dari guru, bisa terjadi cara belajar yang demikian apa yang seharusnya dipelajari dan dipahami tidak pernah dicapai oleh siswa.
3. Penilaian yang diberikan dalam SPK didasarkan kepada hasil kerja kelompok. Namun demikian, guru perlu menyadari, bahwa sebenarnya hasil atau prestasi yang diharapkan adalah prestasi setiap individu siswa.
4. Keberhasilan SPK dalam upaya mengembangkan kesadaran berkelompok memerlukan periode waktu yang cukup panjang. Dan hal ini tidak mungkin dapat tercapai hanya dengan satu kaliatau sesekali penerapan strategi ini.
5. Walaupun kemampuan bekerja sama merupakan kemampuan yang sangat penting untuk siswa, akan tetapi banyak aktivitas  dalam kehidupan yang hanya didasarkan kepada kemampuan secara individual. Oleh karena itu, idealnya melalui SPK selainsiswa belajar bekerja sama, siswa juga harus belajar membangun kepercayadirian. Untuk mencapai kedua hal itu dalam SPK memang bukan hal yang mudah.

F. Hasil Penelitian yang Relevan
 Berikut adalah hasil penelitian yang relevan mengenai SPK :
2.  Penelitian yang dilakukan oleh M. A. Hertiavi, dkk dalam penelitiannya yang berjudul "Penerapan ModelPembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Untuk Peningkatan Kemampuan PemecahanMasalah Siswa SMP"

G. Video Pembelajaran Terkait
Berikut ini contoh penerapan Pembelajaran Kooperatif :




DAFTAR PUSTAKA
1. Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana, Prenada Media Group
2. Syarifudin, H.E, dkk. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Diadat Media
3. Trianto.2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Kencana, Prenada Media Group
4. Husna, M. Ikhsan, Siti Fatimah. (2013, April). Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Dan Komunikasi Matematis Siswa Sekolah Menengah Pertama Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share (TPS). Jurnal Peluang. Volume 1 nomer 2. http://www.jurnal.unsyiah.ac.id/peluang/article/view/1061. Diakses pada 19 Maret 2018 pukul 15:59
5.  M. A. Hertiavi, dkk. (2010, Januari). Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Untuk Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa SMP. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia. https://www.researchgate.net/publication/307659420. Diakses pada 20 Maret 16:25

Comments

Popular posts from this blog

METODE DISKUSI

Source: https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images A. Pengertian Metode Diskusi Diskusi ialah percakapan yang responsif yang dijalin oleh pertanyaan - pertanyaan problematis dan diarahkan untuk memperoleh pemecahan masalahnya. Sedangkan metode diskusi adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran dimana guru memberi kesempatan kepada para siswa (kelompok-kelompok siswa) untuk mengadakan perbincangan ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternatif pemecahan atas suatu masalah. B. Dasar Pertimbangan Pemilihan Metode Diskusi Metode diskusi digunakan dalam proses belajar mengajar bila hendak : source: https://fitrianisuci.files.wordpress.com (1) Memanfaatkan berbagai kemampuan yang ada (dimiliki) oleh para siswa. (2) Memberikan kesempatan kepada para siswa untuk menyalurkan kemampuannya masing-masing. (3) Memperoleh umpan balik dari para siswa tentang apakah tujuan yang telah dirumuskan telah dicapai. (4)  Membantu pa...