Secara umum strategi
mempunyai pengertian suatu garis-garisbesar haluan untuk bertindak dalam usaha
mencapai sasaran yang telah ditemukan. Dihubungkan dengan belajar mengajar,
strategi bisa diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru dan anak didik dalam
perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah
digariskan. Strategi-strategi belajar mengacu pada perilaku dan
proses-proses berpikir yang digunakan oleh siswa dalam mempengaruhi hal-hal
yang dipelajari, termasuk memori dan metakognitif.
Model Pembelajaran kelompok adalah rangkain kegiatan belajar yang
dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan
pembelajaran yang telah dirumuskan. Ada empat unsur penting dalam SPK, yaitu:
(1) adanya peserta
dalam kelompok;
(2) adanya aturan
kelompok;
(3) adanya upaya
belajar setiap anggota kelompok; dan
(4) adanya tujuan
yang harus dicapai.
Peserta adalah siswa yang melakukan proses pembelajaran dalam setiap kelompok
belajar. Pengelompokkan siswa bisa ditetapkan berdasarkan beberapa pendekatan,
diantaranya pengelompokkan yang didasarkan atas latarbelakang kemampuan,
pengelompokkan yang didasarkan atas minat dan bakat siswa, pengelompokkan yang
didasarkan atas latarbelakang kemampuan, pengelompokkan yang didasarkan atas
campuran baik campuran ditinjau dari minat maupun kemampuan. Pendekatan apapun
yang digunakan, tujuan pembelajaran haruslah menjadi pertimbangan utama.
Aturan kelompok adalah segala sesuatu yang menjadi kesepakatan semua
pihak yang terlibat, baik siswa sebagai peserta didik, maupun siswa sebagai
anggota kelompok.
Upaya belajar adalah
aktivitas siswa untuk meningkatkan kemampuann baru, baik berupa dalam aspek
pengetahuan, sikap, maupun keterampilan. aktivitas pembelajaran tersebut dilakukan
dalam kegiatan kelompok, sehingga antarpeserta dapat saling membelajarkan
melalui tukar pikiran, pengalaman, maupun gagasan-gagasan.
Salah satu strategi dari model pembelajaran kelompok adalah strategi
pembelajaran kooperatif ( cooperative learning) (SPK). SPK merupakan strategi
pembelajaran kelompok yang akhir-akhir ini menjadi perhatian dan dianjurkan
para ahli pendidikan untuk digunakan. Slavin (1995) mengemukakan dua
alasan, pertama, beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa
penggunaan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar
siswa sekaligus dapat meningkatkan kemampuan hubungan sosial,
menumbuhkan sikap menerima kekurangan diri dan orang lain, serta dapat meningkatkan
harga diri. Kedua, pembelajaran kooperatif dapat merealisasikan
kebutuhan siswa dalam belajar berpikir, memecahkan masalah, dan
mengintegrasikan pengetahuan dengan keterampilan. Pembelajaraan kooperatif
merupakan model pembelajaran dengan menggunakan pengelompokkan /tim kecil,
yaitu antara empat sampai enam orang yang mempunyai latar belakang kemampuan
akademik, jenis kelamin,ras,atau suku yang berbeda (heterogen).
Model Pembelajaran kelompok adalah rangkain kegiatan belajar yang dilakukan
oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran
yang telah dirumuskan. Ada empat unsur penting dalam SPK, yaitu:
(1) adanya peserta dalam
kelompok;
(2) adanya aturan
kelompok;
(3) adanya upaya belajar
setiap anggota kelompok; dan
(4) adanya tujuan yang
harus dicapai.
Peserta adalah siswa yang melakukan proses pembelajaran dalam setiap
kelompok belajar. Pengelompokkan siswa bisa ditetapkan berdasarkan beberapa
pendekatan, diantaranya pengelompokkan yang didasarkan atas latarbelakang
kemampuan, pengelompokkan yang didasarkan atas minat dan bakat siswa,
pengelompokkan yang didasarkan atas latarbelakang kemampuan, pengelompokkan
yang didasarkan atas campuran baik campuran ditinjau dari minat maupun
kemampuan. Pendekatan apapun yang digunakan, tujuan pembelajaran haruslah
menjadi pertimbangan utama.
Aturan kelompok adalah segala sesuatu yang menjadi kesepakatan semua
pihak yang terlibat, baik siswa sebagai peserta didik, maupun siswa sebagai
anggota kelompok.Dasar Penggunaan Kooperatif :
1. Guru menekankan
pentingnya usaha kolektif disamping usaha individual dalam belajar
2. jika guru menghendaki
seluruh siswa ( bukan hanya siswa yang pintar saja) untuk memperoleh
keberhasilan dalam belajar.
3. jika guru ingin
menanamkan, bahwa siswa dapat belajar dari teman lainnya, dan belajar dari
bantuan orang lain.
4. jika guru menghendaki
untuk mengembangkan kemampuan komunikasi siswa sebagai bagian dari isi
kurikulum.
5. jika guru menghendaki
meningkatnya motivasi siswa dan menambah tingkat partisipasi mereka.
6. jika guru menghendaki
berkembangnya kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dan menemukan berbagai
solusi pemecahan.
B. Karakteristik
Strategi Pembelajaran
Pembelajaran kooperatif
berbeda dengan strategi pembelajaranyang lain. Perbedaan tersebut dapat dilihat
dari proses kerja sama dalam kelompok. Tujuan yang ingin dicapai tidak hanya
kemampuan akademik dalam pengertian penguasaan dalam pembelajaran, tetapi juga
adanya unsur kerja sama yang menjadi ciri khasdari pembelajaran
kooperatif.
Strategi pembelajaran
kooperatif dijelaskan dibawah ini.
1. Pembelajaran secara
tim
Pembelajaran kooperatif
adalah pembelajaran secara tim. Tim merupakan trmpat untuk mencapai tujuan.
Oleh karena itu, tim harus mampu membuat setiap siswa belajar. Semua anggota
tim (anhgota kelompok) harus saling membantu untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Untuk itulah, kriteria keberhasilan pembelajaran ditentukan oleh
keberhasilan tim.
Setiap kelompok bersifat
heterogen.
2. Didasarkan pada
manajemen kooperatif
Sebagaimana pada
umumnya, manajemen mempunyai empat fungsi pokok, yaitu fungdi perencanaan,
fungsi organisasi, fungsi pelaksanaan, dan fungsi kontrol.
3. Kemauan untuk bekerja
sama
Setiap anggota kelompok
bukan saja harus diatur tugas dan tanggung jawab masing-masing, akan tetapi
juga ditanamkan perlunya saling membantu.
4. Keterampilan bekerja
sama
Kemampuan untuk bekerja
sama itu kemudian dipraktikkan melalui aktivitas dan kegiatan yang tergambarkan
dalam keterampilan bekerja sama. Dengan demikian, siswa perlu didorong untuk
mau dan sanggup berinteraksi dan berkomunikasi dengan anggota lain.
C. Prinsip-prinsip
Pembelajaran Kooperatif
1. Prinsip
ketergantungan Positif (Positive Interdependence)
Dalam pembelajaran
kelompok, keberhasilan suatu penyelesaian tugas sangat tergantung kepada usaha
yang dilakukan setiap anggota kelompoknya. Oleh sebab itu, perlu disadari oleh
setiap anggota kelompok akan ditentukan oleh kinerja masing-masing anggota.
Dengan demikian, semua anggota dalam kelompok akan merasa saling
ketergantungan.
2. Tanggung Jawab Perseorangan
(Individual Accountability)
Prinsip ini merupakan
konsekuensi dari prinsip yang pertama. Oleh karena keberhadilan kelompok
tergantung pada setiap anggotanya, maka setiap anggota kelompok harus memiliki
tanggung jawab sesuai dengan tugasnya.
3. Interaksi Tatap Muka
( Face to Face Promootion Interaction)
Pembelajaran kooperatif
memberi ruang dqn kesempatan yang luas kepada setiap anggota untuk bertatap
muka saling memberikan informasi dan saling membelajarkan. Interaksi tatap muka
akan memberikan pengalaman yang berharga kepada setiap anggota kelompok untuk
bekerja sama, menghargai setiap perbedaan, memanfaatkan kelebihan masibg-masing
anggota, dan mengisi kekurangan masing-masing.
4. Partisipasi dan
Komunikasi ( Participation Communication)
Pembelajaran kooperatif
melatih siswa untuk dapat mampu berpartisipasi aktif dan berkomunikasi.
Kemampuan ini sangat penting sebagai bekal mereka dalam kehidupan di masyarakat
kelak.
D. Langkah - langkah
Pembelajaran Kooperatif
1. Penjelasan Materi
Tahap penjelasan
diartikan sebagai proses penyampaian pokok-pokok materi pelajaran sebelum siswa
belajar dalam kelompok. Tujuan utama dalam tahap ini guru menberikan gambaran
umum tentang materi pelajaran yang harus dikuasai yang selanjutnya siswa akan
memperdalam materi dalam pembelajaran kelompok (tim). Pada tahap ini, guru
dapat menggunakan metode ceramah, curah pendapat, dan tanya jawab, bahkan kalau
perlu guru dapat menggunakan demonstrasi. Disamping itu, guru juga dapat
menggunakan berbagai media pembelajaran agar proses penyampaian dapat lebih
menarik siswa.
2. Belajar dalam
kelompok
Setelah guru menjelaskan
gambaran umum tentabg pokok - pokok materi pelajaran, selanjutnya siswa diminta
untuk belajar pada kelompoknya masing-masing yang telah dibentuk sebelumnyam
3. Penilaian
Penilaian dalam SPK bisa
dilakukan dengan tes atau kuis. Tes atau kuis dilakukan baik secara individual
maupun secara kelompok.
4. Pengakuan Tim
| https://teachingsexed.files.wordpress.com/2014/01/cartoon-people-groups.gif |
E. Keunggulan Dan
Keterbatasan SPK
![]() | |
|
- Keunggulan SPK
1. Melalui SPK siswa
tidak terlalu menggantungkan pada guru, akan tetapi dapat menambah kepercayaan
kemampuan berpikir sendiri, menemukan informasi dari berbagai sumber, dan
belajae dari siswa yang lain.
2. SPK dapat
mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara
verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain.
3. SPK dapat membantu
anak untuk respek pada orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya
serta menerima segala perbedaan.
4. SPK dapat membantu
memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.
5. SPK merupakan suatu
strategi yang cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik sekaligus
kemampuan sosial termasuk mengembangkan rasa harga diri, hubungan iterpersonal
yang positif dengan yang lain, mengembangkan keterampilam me-manage wakt, dan
sikap positif terhadap sekolah.
6. Melalu SPK dapat
mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri,
menerima umpan balik. siswa dapat berpraktik memecahkan masalah tanpa takut
membuat kesalahan, karena keputusan yang dibuat adalah tanggung jawab
kelompoknya.
7. SPK dapat
meningkatkan kemampuan siswa menggunakan informasi dan kemampuan belajar
abstrak menjadi nyata (riil).
8. Interaksi selama
kooperatif berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan
untuk berpikir. Hal ini berguna untuk proses pendidikan jangka panjang.
- Keterbatasan SPK
Disamping keunggulan, SPK juga memiliki kekurangan, diantaranya :
1. Untuk memahami dan
mengerti filosofis SPK memang butuh waktu. sangat tidak rasional kalau kita
mengharapkan secara otomatis siswa dapat mengerti dan memahami filsafat
cooperative learning,
2. Ciri utama dari SPK
adalah bahwa siswa saling membelajarkan. oleh karena itu, jika tanpa peer
teachhing yang efektif, maka dibandingkan pembelajaran langsung dari guru, bisa
terjadi cara belajar yang demikian apa yang seharusnya dipelajari dan dipahami
tidak pernah dicapai oleh siswa.
3. Penilaian yang diberikan
dalam SPK didasarkan kepada hasil kerja kelompok. Namun demikian, guru perlu
menyadari, bahwa sebenarnya hasil atau prestasi yang diharapkan adalah prestasi
setiap individu siswa.
4. Keberhasilan SPK
dalam upaya mengembangkan kesadaran berkelompok memerlukan periode waktu yang
cukup panjang. Dan hal ini tidak mungkin dapat tercapai hanya dengan satu
kaliatau sesekali penerapan strategi ini.
5. Walaupun kemampuan
bekerja sama merupakan kemampuan yang sangat penting untuk siswa, akan tetapi
banyak aktivitas dalam kehidupan yang hanya didasarkan kepada kemampuan
secara individual. Oleh karena itu, idealnya melalui SPK selainsiswa belajar
bekerja sama, siswa juga harus belajar membangun kepercayadirian. Untuk
mencapai kedua hal itu dalam SPK memang bukan hal yang mudah.
F. Hasil Penelitian yang
Relevan
Berikut adalah hasil penelitian yang relevan mengenai SPK :
1. Penelitian yang
dilakukan oleh Husna, dkk dalam penelitiannya yang berjudul " PeningkatanKemampuan Pemecahan Masalah Dan
Komunikasi Matematis Siswa Sekolah MenengahPertama Melalui Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe Think-Pair-Share (Tps)"
2. Penelitian yang
dilakukan oleh M. A. Hertiavi, dkk dalam penelitiannya yang berjudul "Penerapan ModelPembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
Untuk Peningkatan Kemampuan PemecahanMasalah Siswa SMP"
G. Video Pembelajaran Terkait
Berikut ini contoh penerapan Pembelajaran Kooperatif :
DAFTAR PUSTAKA
1.
Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Jakarta: Kencana, Prenada Media Group
2. Syarifudin, H.E, dkk. 2010. Strategi Belajar Mengajar.
Jakarta: Diadat Media
3. Trianto.2007.
Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta:
Kencana, Prenada Media Group
4. Husna, M. Ikhsan, Siti Fatimah. (2013,
April). Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Dan Komunikasi Matematis
Siswa Sekolah Menengah Pertama Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share (TPS). Jurnal
Peluang. Volume 1 nomer 2. http://www.jurnal.unsyiah.ac.id/peluang/article/view/1061.
Diakses pada 19 Maret 2018 pukul 15:59
5. M. A.
Hertiavi, dkk. (2010, Januari). Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif
Tipe Jigsaw Untuk Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa SMP. Jurnal
Pendidikan Fisika Indonesia. https://www.researchgate.net/publication/307659420. Diakses
pada 20 Maret 16:25


Comments
Post a Comment